LABUHANBATU — Di tengah derasnya arus informasi digital, menguatnya polarisasi sosial, serta munculnya berbagai paham yang berpotensi menggerus persatuan bangsa, Anggota DPRD Sumatera Utara dari Fraksi Partai NasDem, HT Milwan, memilih menyasar kalangan pelajar dan santri sebagai garda terdepan penguatan ideologi bangsa.
Melalui program Penyebarluasan Ideologi Pancasila dan Penguatan Wawasan Kebangsaan yang digelar di Kabupaten Labuhanbatu pada 8–9 Juni dan dilanjutkan 19–20 Juni 2026, Milwan mengajak para pelajar dan santri untuk tidak hanya memahami Pancasila sebagai materi pelajaran, tetapi menjadikannya sebagai pedoman hidup dalam menghadapi tantangan zaman.
“Kita ingin generasi muda memiliki fondasi yang kuat. Mereka harus religius, berkarakter, cinta tanah air, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila,” kata Milwan dalam kegiatan tersebut, Sabtu, ( 20 /6 ).
Akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, Dr. Faisal Andri Mahrawa, S.IP., M.Si., yang menjadi narasumber utama, menyoroti pentingnya membangun karakter generasi muda sebelum berbicara mengenai prestasi akademik.
Menurut Faisal, keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh adab dan integritas.
“Adab harus ditempatkan di atas ilmu. Ilmu tanpa adab berpotensi kehilangan arah dan manfaatnya bagi masyarakat,” ujarnya.
Dalam forum yang berlangsung interaktif tersebut, para pelajar dan santri diajak berdiskusi mengenai tantangan kebangsaan, peluang pendidikan, hingga pentingnya memanfaatkan program beasiswa untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Faisal juga membagikan pengalaman hidupnya yang berasal dari keluarga sederhana hingga berhasil meraih gelar Doktor melalui berbagai jalur beasiswa prestasi. Kisah tersebut mendapat perhatian peserta dan menjadi motivasi bagi pelajar untuk terus melanjutkan pendidikan setinggi mungkin.
Tokoh Pemuda Labuhanbatu, Tengku Muhammad Arif Akbar, kepada awak media mengatakan, pendekatan yang digunakan dalam kegiatan Wasbang DPRD Provinsi tersebut berbeda dari pola pembelajaran Pancasila yang selama ini cenderung bersifat teoritis.
Menurut Arif, materi yang disampaikan tidak berhenti pada hafalan sila-sila Pancasila, tetapi diarahkan pada pemahaman praktis mengenai bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Pelajar tidak hanya diajak memahami isi Pancasila, tetapi juga bagaimana mengimplementasikannya dalam sikap, perilaku, dan cara berpikir. Ini yang membuat materi lebih mudah diterima,” katanya.
Arif menambahkan, penguatan wawasan kebangsaan menjadi semakin penting di tengah tantangan globalisasi dan derasnya pengaruh budaya luar.
Menurut dia, kecintaan terhadap tanah air harus diwujudkan melalui sikap menjaga persatuan, menghargai keberagaman, serta berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Program penyebarluasan ideologi Pancasila yang dilaksanakan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui DPRD Sumut tersebut dinilai menjadi salah satu upaya strategis untuk menanamkan nilai kebangsaan sejak dini, khususnya kepada generasi muda yang kelak akan menjadi penentu arah masa depan Indonesia.(MS)


















