banner 970x250

Milwan Dorong Pelajar MTsN 2 Labuhanbatu Berani Bermimpi, Sekolah Minta Kepastian Status Lahan

Labuhanbatukini.id, MTs Negeri 2 Labuhanbatu, Desa Janji, Kecamatan Bilah Barat, Selasa (13/3), menjadi lokasi penyebarluasan ideologi Pancasila yang digelar anggota DPRD Sumatera Utara dari Fraksi NasDem, HT Milwan. Kegiatan itu diikuti pelajar kelas VII hingga IX, guru, dan jajaran sekolah.

banner 325x300

Di hadapan siswa, Milwan tak sekadar mengulas Pancasila sebagai norma dasar negara. Ia memilih pendekatan personal: memaparkan perjalanan hidupnya sebagai motivasi.

“Saya dulu anak karyawan PTP. Tamat SMA masuk Akabri, berkarier di militer, pernah menjadi bupati, dan sekarang berdiri di sini sebagai anggota DPRD,” kata dia. “Jangan takut bermimpi. Gantungkan cita-cita setinggi mungkin.”

Pernyataan itu disambut tepuk tangan siswa. Sejumlah pelajar lalu diminta menyampaikan cita-cita mereka. Raza Afisahri, kelas VIII, ingin menjadi ustaz. Aisyah bercita-cita menjadi dokter. Aqila menargetkan menjadi polisi wanita. Fai Ramadhan ingin bergabung dengan TNI.

Akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, Dr. Faisal Andri Mahrawa yang hadir sebagai narasumber, menekankan pentingnya disiplin dan daya juang.

“Cita-cita tidak cukup diucapkan. Harus ada strategi belajar dan konsistensi,” ujarnya. Ia mencontohkan, untuk masuk fakultas kedokteran, siswa perlu jam belajar lebih panjang serta persiapan menghadapi persaingan ketat.

Pancasila: Antara Hafalan dan Praktik
Dalam pemaparan materi, Milwan menilai pembelajaran Pancasila kerap berhenti pada hafalan. “Kalau hanya dihafal, terasa membosankan,” ujarnya.

Ia kemudian mengurai praktik tiap sila dalam kehidupan sehari-hari: menjalankan ibadah sesuai keyakinan dan menghormati agama lain; bersikap adil; menjaga persatuan dalam keberagaman; mengedepankan musyawarah; serta memastikan keadilan sosial, terutama bagi kelompok kurang mampu.

Isu literasi digital juga mengemuka. Seorang siswa kelas IX, Nasita Ritonga, menanyakan cara memperkuat wawasan kebangsaan di tengah arus digitalisasi. Faisal mengingatkan pentingnya verifikasi informasi sebelum menyebarkannya.

“Tidak semua yang muncul di media sosial itu benar. Saring sebelum berbagi. Jika ragu, berhenti di kita,” kata dia.

Pertanyaan lain datang dari Anisa mengenai pengaruh tren TikTok dan Reels terhadap budaya. Faisal menjelaskan mekanisme algoritma yang memunculkan konten sesuai pola tontonan pengguna, seraya mengingatkan siswa agar bijak memilih konsumsi digital.
Aspirasi Soal Lahan Sekolah
Di luar materi kebangsaan, muncul persoalan administratif. Kepala sekolah meminta bantuan Milwan untuk mendorong pelepasan lahan sekolah oleh PTPN IV agar dapat diterbitkan sertifikat hak milik.

Milwan menyatakan akan menampung aspirasi tersebut sesuai kewenangannya sebagai legislator provinsi.

Kegiatan berlangsung interaktif selama beberapa jam. Di ruang kelas itu, Pancasila dibicarakan bukan hanya sebagai dokumen normatif, melainkan sebagai pijakan menghadapi kompetisi pendidikan, arus informasi digital, hingga persoalan konkret sekolah di daerah.(Red)

banner 325x300
banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *