banner 970x250

Komunitas Titik Kumpul Literasi Gelar Diskusi Buku Aksi Massa Karya Tan Malaka

Komunitas Titik Kumpul Literasi menyelenggarakan diskusi buku seri yang kedua, Jumat (19/9)

labuhanbatukini.id Medan – Komunitas Titik Kumpul Literasi kembali menggelar diskusi buku sebagai ruang intelektual alternatif bagi mahasiswa. Kali ini yang menjadi bahan diskusi adalah buku klasik yang bertajuk Aksi Massa. Karya Tan Malaka yang terbit pertama sekali pda tahun 1926 ini sangat menarik untuk menjadi bahan kajian.

Diskusi berlangsung di Pendopo FISIP Universitas Sumatera Utara (USU) dan merupakan seri kedua dari rangkaian diskusi buku yang diinisiasi komunitas ini.

banner 325x300

Acara dibuka oleh moderator Erien Christina, mahasiswi Ilmu Politik USU Stambuk 2024. Ia menekankan bahwa Aksi Massa tidak hanya penting secara historis, tetapi juga relevan bagi mahasiswa untuk memahami peran rakyat sebagai aktor utama perubahan politik.

Pemantik diskusi, Lestari Silalahi, mahasiswi Kesejahteraan Sosial USU Stambuk 2023, menjelaskan bahwa buku ini ditulis Tan Malaka pada tahun 1926 saat ia berada di pengasingan. Menurutnya, karya tersebut menegaskan bahwa tanpa keterlibatan massa yang sadar dan terorganisir, perjuangan hanya akan berhenti pada wacana elitis.

Diskusi semakin menarik ketika Otniel Zebua, mahasiswa Ilmu Politik USU Stambuk 2024, menambahkan penjelasan lebih mendalam. Ia menyoroti pandangan Tan Malaka bahwa jalan menuju kemerdekaan tidak bisa ditempuh melalui kompromi dengan kolonialisme atau jalur parlementer semata, melainkan melalui aksi massa revolusioner.

“Semakin besar jurang antara kelas yang memerintah dengan kelas yang diperintah, semakin besarlah hantu revolusi.”, ujar Otniel.

Koordinator kegiatan, Joy Harefa, menjelaskan bahwa Komunitas Titik Kumpul Literasi hadir untuk menjembatani mahasiswa dengan bacaan berat dan klasik yang sering dianggap jauh dari realitas.

“Kami ingin buku-buku besar seperti Aksi Massa dipahami melalui diskusi kolektif, agar mahasiswa dapat mengaitkannya dengan konteks sosial-politik hari ini,” ujarnya.

Salah satu peserta, mahasiswa Ilmu Hukum USU Stambuk 2023, mengaku antusias dengan diskusi ini. Ia berharap kegiatan serupa dapat menumbuhkan budaya intelektual baru di kampus, yaitu budaya yang kritis, reflektif, dan berani menyuarakan isu-isu penting yang sering terabaikan dalam ruang formal akademik.

Diskusi ditutup dengan ajakan agar mahasiswa terus menghidupkan tradisi literasi kritis sebagai bagian dari peran intelektual muda di tengah masyarakat. (*)

banner 325x300
banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *