banner 970x250

Kasat Narkoba Labusel Turun ke Jalan: Takjil, Empati, dan Ikhtiar Membangun Kepercayaan

Labuhanbatukini.id, LABUSEL — Menjelang azan Magrib, arus kendaraan di Kota Pinang melambat. Di simpang yang menjadi denyut ibu kota Labuhanbatu Selatan itu, tangan-tangan terulur membagikan takjil—bukan sekadar untuk berbuka, tetapi juga untuk menyapa.

Di antara mereka, berdiri Kasat Narkoba Polres Labusel, AKP Sahat Lumban Gaol. Ia tidak datang dengan jarak, melainkan dengan langkah yang menyatu bersama masyarakat.

banner 325x300

Bersamanya, tampak Muhammad Buyung Lubis, Abdul Situmorang, dan tokoh masyarakat Marzuki Siregar, berdiri di garis yang sama, tanpa sekat status.
Tak ada podium. Tak ada formalitas berlebih. Hanya senyum yang dibagikan bersama paket takjil kepada pengendara yang melintas, Selasa (17/3/2026).

Seorang pengemudi ojek menerima bungkusan kecil itu dengan anggukan singkat. Di balik gestur sederhana, tersimpan sesuatu yang lebih dalam: rasa dilihat, diakui, dan dihampiri.

“Kami hadir tidak hanya dalam penegakan hukum, tetapi juga dalam kegiatan sosial. Ramadan mengajarkan empati dan kepedulian,” ujar AKP Sahat.

Namun, di balik suasana hangat itu, terselip pesan yang tidak diucapkan dengan suara keras. Setiap paket takjil membawa pengingat: ancaman narkotika tidak pernah benar-benar jauh. Ia bisa masuk dari celah paling sunyi, rumah, pergaulan, bahkan harapan yang rapuh.

Pendekatan yang dipilih bukan razia, bukan pula angka-angka penindakan. Melainkan kedekatan. AKP Sahat menyebutnya sebagai cara membangun kepercayaan, sesuatu yang tak bisa dipaksa, hanya bisa dirawat.
“Dengan hubungan emosional yang kuat, masyarakat akan lebih terbuka. Dari situlah kerja bersama melawan narkoba bisa dimulai,” katanya.

Bagi Muhammad Buyung Lubis, kebersamaan lintas elemen ini bukan sekadar simbolik. Ia melihatnya sebagai fondasi sosial yang penting di daerah. Sementara Abdul Situmorang berharap kebersamaan semacam ini tidak berhenti sebagai agenda musiman.

Di Kota Pinang, berbagi takjil memang tradisi lama. Tetapi sore itu, ada nuansa lain yang terasa: aparat yang tidak berdiri di seberang, melainkan di sisi yang sama dengan warga.
Mungkin, kepercayaan memang tumbuh dari hal-hal kecil, dari sapaan singkat di lampu merah, dari tangan yang memberi tanpa bertanya, dari kehadiran yang tidak menghakimi.

Dan di tengah lalu lintas yang kembali bergerak setelah azan berkumandang, yang tertinggal bukan hanya rasa manis di lidah, melainkan pesan sunyi: bahwa menjaga generasi dari narkoba tidak cukup dengan hukum, tetapi juga dengan hati yang saling mendekat.(MS)

banner 325x300
banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *