Labuhanbatukini.id, Rantauprapat – Di tengah puing-puing yang masih menyisakan bau hangus, Bupati Labuhanbatu, Maya Hasmita, hadir bukan sekadar membawa bantuan, tetapi juga menguatkan hati warga yang dilanda duka akibat kebakaran di Gang Rambutan, Kelurahan Padang Matinggi, Kecamatan Rantau Utara, Selasa (17/03/2026).
Langkahnya berlanjut ke Jalan Lintas Aek Nabara, Kecamatan Bilah Hulu. Didampingi Kepala Dinas Sosial, jajaran kecamatan, serta Palang Merah Indonesia (PMI) Labuhanbatu, pemerintah memastikan para korban tidak sendiri menghadapi cobaan ini.
Di hadapan warga, suasana haru tak terelakkan. Rumah yang dahulu menjadi tempat berteduh kini hanya menyisakan arang dan kenangan. Di Kecamatan Rantau Utara, Rosliani (Wak Kecik) harus merelakan satu-satunya rumahnya hangus dalam kebakaran pada 26 Februari 2026 lalu.
Bantuan berupa sembako, uang tunai Rp5.000.000, parcel, serta tambahan dari PMI Labuhanbatu sebesar Rp4.000.000 dan satu unit kompor gas diserahkan langsung. Namun lebih dari itu, kehadiran pemerintah menjadi penegas bahwa duka masyarakat adalah duka bersama.
“Atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu, kami turut prihatin. Kami hadir bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga doa dan harapan agar ibu dan keluarga bisa bangkit kembali,” ucap Bupati dengan suara penuh empati.

Di Bilah Hulu, kisah serupa juga dirasakan Tawin dan Winarni. Api telah merenggut tempat tinggal mereka, namun kepedulian datang menyapa. Masing-masing menerima bantuan uang tunai Rp5.000.000 dan paket sembako sebagai penopang awal untuk memulai kembali kehidupan.
Bupati juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap potensi kebakaran, terutama di lingkungan permukiman yang padat. Menurutnya, musibah bisa datang kapan saja, namun kewaspadaan dapat menjadi benteng pertama pencegahan.
Peristiwa ini bukan sekadar tentang rumah yang terbakar. Ini tentang kehilangan, tentang air mata yang jatuh diam-diam, dan tentang harapan yang nyaris padam.
Namun di saat yang sama, ini juga tentang kepedulian, tentang tangan-tangan yang terulur, tentang pemerintah yang hadir, dan tentang keyakinan bahwa dari abu, kehidupan bisa kembali tumbuh.
Di tengah luka yang belum sepenuhnya sembuh, satu hal menjadi jelas: mereka tidak sendiri.(MS)


















