Labuhanbatukini.id, LABURA – IPTU Dr. Iskandar Muda Sipayung, S.H., M.H. memberikan klarifikasi terkait beredarnya video di media sosial yang menampilkan dirinya dengan narasi yang dinilai tidak sesuai dengan fakta kejadian. Klarifikasi tersebut disampaikan untuk meluruskan informasi yang beredar di tengah masyarakat, Senin (16/3/2026).
Iskandar Muda Sipayung menjelaskan, peristiwa dalam video tersebut sebenarnya terjadi pada 10 Agustus 2025 di objek wisata Sungai “Gomara Swiss”, Desa Simanis, Kecamatan Aek Natas, Kabupaten Labuhanbatu Utara.
Saat itu, ia sedang berkunjung bersama keluarganya sekaligus membuat dokumentasi video di jembatan gantung kawasan wisata tersebut.
Menurutnya, pembuatan video itu bertujuan untuk memperkenalkan dan mempromosikan potensi wisata Sungai Gomara Swiss agar lebih dikenal masyarakat luas dan dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke wilayah tersebut.
Dalam kesempatan itu, ia juga sempat berinteraksi dengan Kepala Desa Simanis, Amrul Hajari Munthe, S.Sos.I.. Ketika berada di sekitar sungai, Iskandar melihat kepala desa mengambil dan memakan buah yang oleh warga setempat dikenal sebagai “buah ular”.
Karena merasa penasaran dan sempat mengira buah tersebut beracun, Iskandar kemudian mendatangi kepala desa untuk mendokumentasikan penjelasan mengenai buah tersebut. Dalam penjelasannya, Kepala Desa Simanis menyampaikan bahwa buah tersebut tidak beracun dan biasa dikonsumsi masyarakat setempat, dengan rasa yang disebut menyerupai buah pinang atau kelat.
Namun, menurut Iskandar, video dokumentasi tersebut kemudian diambil oleh pihak lain dan diduga telah diedit secara manipulatif oleh sebuah akun media sosial bernama “Aki” yang diunggah pada 14 Maret 2026.
Dalam video yang beredar, terdapat tambahan tanda panah yang diarahkan kepada sejumlah pengunjung yang berada di belakang kepala desa, disertai narasi yang menyebut mereka sebagai “bandar ilegal logging”.
Iskandar menegaskan bahwa dirinya tidak mengenal orang-orang yang berada di lokasi tersebut dan tidak pernah menyampaikan pernyataan seperti yang dinarasikan dalam video yang beredar.
Selain itu, video tersebut juga digabungkan dengan potongan video lain milik akun “Khoir Munthe” yang memperlihatkan truk bermuatan kayu. Penggabungan potongan video itu, menurutnya, menimbulkan kesan seolah-olah terdapat aktivitas ilegal yang berkaitan dengan kegiatan yang ia lakukan di lokasi wisata tersebut.
Iskandar menegaskan bahwa potongan video tersebut tidak memiliki keterkaitan dengan kegiatan yang dilakukannya saat berada di objek wisata Sungai Gomara Swiss.
Ia berharap klarifikasi ini dapat memberikan pemahaman yang utuh kepada masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya di media sosial.
“Kami berharap masyarakat dapat menyaring informasi dengan bijak serta tidak langsung mempercayai konten yang telah diedit atau dimanipulasi tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya,” ujarnya.
Klarifikasi tersebut disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab untuk meluruskan informasi yang berkembang serta menjaga agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat dan berimbang.(Red)


















