labuhanbatukini.id, Medan – Pemikiran-pemikiran Tan Malaka masih menjadi bahan diskusi yang menarik bagi anak muda seperti sekarang ini. Apalagi di saat situasi politik yang semakin dinamis.
Hal itu disampaikan Rasyid Situmorang saat menjadi narasumber kegiatan diskusi buku karya Tan Malaka. Buku yang berjudul Dari Penjara Ke Penjara ini masih menarik untuk didiskusikan dan menjadi motivasi buat mahasiswa.
“Pemikiran-pemikiran Tan Malaka seperti tak lekang oleh waktu. Pemikiran-pemikiran tersebut menjadi spirit bagi mahasiswa, bahkan menjadi stimulan bagi gerakan mahasiswa” ujar Rasyid yang juga mahasiswa tingkat akhir FISIP USU ini, Kamis (11/9).
Kegiatan diskusi buku yang digelar oleh Komunitas Titik Kumpul Literasi ini juga mengundang Samudra Nasution sebagai pembicara lainnya.
Samudra memberikan gambaran secara runut isi buku karya Tan Malaka tersebut. Menurut Samudra, buku Dari Penjara ke Penjara ini sesungguhnya bisa disebut sebagai sebuah buku otobiografi yang khas. Tan merangkaikan pemikiran-pemikiran melalui dialognya dengan tokoh-tokoh lain. Disela-sela perjalanannya dari kota yang satu ke kota lainnya. Dari negara yang satu ke negara lainnya.
Disampaikan Samudra juga bahwa buku Dari Penjara ke Penjara ditulis oleh Tan Malaka saat dirinya mendekam di penjara.
Buku ini diawali dari cerita Tan Malaka yang melanjutkan pendidikannya di Rijkskweekshcool atau Sekolah Kejuruan Guru Kerajaan, di Kota Haarlem, Belanda, tahun 1913. Kemudian ia pulang ke Sumatera dan menjadi semacam guru bantu di sekolah anak kuli perkebunan tembakau di Sanembah, Tanjung Morawa, Deli, Sumatra Utara, tahun 1919-1920.
“Tan Malaka juga pernah sampai di Tanah Deli kawan-kawan. Tanah Deli menurut Tan sebagai sebuah tempat dimana kaum proletariat berkumpul” ujar mahasiswa dari program studi ilmu politik USU ini.
Menurut Rahman Walid, Co-founder Komunitas Titik Kumpul Literasi, diskusi perdana ini menampilkan salah satu karya brilian pria bernama lengkap Ibrahim bergelar adat Datuk Sutan Malaka ini karena dianggap menarik dan mengajak peserta diskusi agar lebih kritis. Buku bertajuk Dari Penjara ke Penjara yang ditulis pada tahun 1947 masih relevan untuk kita diskusikan.
Kegiatan yang menjadikan Pendopo Mahasiswa FISIP USU sebagai tempat berdiskusi ini, menurut Joy Harefa, pengelola kegiatan dihadiri oleh mahasiswa FISIP USU dari berbagai latar belakang.
“Kawan-kawan mahasiswa sangat antusias dengan kegiatan diskusi buku ini. Ke depan kita juga akan menampilkan diskusi buku yang lebih menarik lagi” ujar Joy Harefa.
Kegiatan diskusi buku ini dipandu oleh Hillary Louisa yang didaulat menjadi moderator.














